QA. Dikuasakan oleh Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Muslimah yang solehah itu umpama ANGIN yang lalu, mereka hadir tanpa disedari, tetapi kehadiran mereka itu mendamaikan hati

 
21 Jun 2010

Jangan pandang rendah orang lain

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang terjumpa kisah unik yang secara logiknya tidak mungkin terjadi, namun bila Sang Pencipta berkehendak segala yang tidak mungkin akan menjadi sangat mungkin. Seperti kisah berikut ini.

Pada suatu hari sepasang suami isteri tengah asyik membaca Quran di ruang tamu rumahnya, tidak beberapa lama saat mereka hendak meminum teh, tiba-tiba terdengar “Assalamu’alikum”.. di depan pintu rumah, setelah dibukakan pintu ternyata seorang pengemis. Melihat keadaan pengemis itu, si isteri merasa terharu dan bermaksud hendak memberikan sedekah kepada pengemis tersebut, seraya meminta izin kepada suami terlebih dahulu, namun suami malah berkata lantang ; “Tidak usah ! Usir saja dia nanti kebiasaan..”. Maka si isteripun mengurungkan niatnya, dan pergilah si pengemis tersebut dari rumah tersebut.




Pada suatu ketika ternyata bisnes si suami itu jatuh, bangun dan akhirnya bankrupt , seluruh kekayaannya habis di gunakan untuk membayar hutangnya , termasuklah rumah yang turut disita oleh pihak bank. Selain itu, hubungan keduanya retak, kerana sudah lama tidak ada keserasian akibat perangai si suami, akhirnya rumah tangga mereka pun berakhir dengan perceraian. Si isteri masih boleh hidup mewah, kerana orang tuanya masih sanggup menanggung kesusahan anak perempuannya, namun sebaliknya bagi bekas suaminya yang tidak memiliki apa-apa.

Beberapa tahun kemudian si istri ternyata telah bernikah kembali dengan seorang pedagang di kota lain dimana suami barunya melakukan perusahaan, mereka cukup bahagia kerana akhlak si isteri yang baik ditunjang dengan penampilannya yang lebih menutupi auratnya sehingga membuatkan orang lain jika melihatnya akan terpegun dan lebih menyejukkan mata mahupun hati , diimbangi dengan kerendahan hati dan sikap santun si suami.

Pada suatu hari saat mereka sedang makan tengahari, tiba-tiba terdengar suara pintu rumahnya diketuk seseorang. Setelah pintunya dibuka ternyata seorang pengemis yang sangat mengharukan si isetri. Maka wanita itu berkata kepada suaminya “Wahai suamiku, bolehkan aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini...?. Suaminya menjawab, “Berikanlah ia makanan yang baik”. Setelah memberikan makan siang kepada pengemis itu, dan pengemis itu pun telah pergi, isterinya masuk ke dalam kamar sambil menangis. Lantas si suami pun menyusulnya ke kamar dan menanyakan penyebab ia menangis, dengan perasaan heran si suami bertanya “Mengapa kamu menangis, sayang...? apakah engkau menangis kerana ada ucapanku yang menyinggungmu ?”. Si istri menggeleng halus, lalu iapun berkata lirih ditengah derai airmatanya, “Wahai suamiku yang baik, aku sedih dengan perjalanan takdir yang menakjubkan hatiku. Tahukan engkau, siapa pengemis itu tadi...?, dia adalah bekas suamiku yang pertama dulu...”. Mendengar ungkapan hati isterinya, si suami cukup terkejut, tetapi ia segera balik bertanya kepada sang istri, “Dan engkau, tahukah kamu siapa aku yang menjadi suamimu kini...”. Tanpa menunggu jawaban si istri, si suamipun berkata lirih ; “Aku adalah pengemis yang dulu diusir oleh bekas suamimu”.

Itulah kehidupan dunia, mungin kita tidak tahu saat ini apakah sedang menaiki anak tangga pertama, pertengahan atau di puncak tangga karir kehidupan, segala sesuatunya sangat mungkin terjadi seperti halnya kisah di atas seiring dengan berputarnya bumi pada garis edarnya dan bergantinya siang dengan malam. Takdir, itulah kata kuncinya, Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu sebagaimana firmanNya ;
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus, 10: 107).



Hal yang dapat kita lakukan adalah meluruskan niat atas segala pekerjaan karenaNya, meningkatkan ikhtiar untuk mencari redhoNya, dan menyerahkan segala urusan kepadaNya. Semoga kita menjadi orang-orang yang tawakal dalam menghadapi segala peristiwa yang terjadi seraya merendahkan jiwa dan raga kita kepada Sang Ilahi bahwa kita adalah hambaNya yang tiada berdaya atas iradahNya. Inna robbakka fa’aalul limaa yuriid. Amin.

0 tautan:

Updates Melalui E-Mail